Bapak itu, terlihat masih begitu hangat dan bersahabat, terlihat tua, dari keriput yang membalut dirinya, dan rambut putih yang menghiasi kepalanya. Disampingnya, ada seorang ibu, yang terlihat sama tuanya, mereka masih tetap terlihat hangat dan rapat, terlihat jelas adanya ketulusan mereka diantara duanya. Hangat, dan memberikan pencerahan yang luar biasa.
Adapula, anak muda, yang hari-harinya terlihat kacau, karna selalu saja timbul masalah didalamkerluarganya, masalah sepele seringkali menjadi pemicu tanpa sebab, terlihat miris hati ini melihatnya, begitu, terus saja, sampai pada akhir yang tidak diharapkan.
Apa sebegitu rumitkan cinta, sebegitu kuatkah pengaruhnya, sampai banyak melampauii keterbatasan kita sebagai manusia.
Tidaklah patut bila cinta itu menjadi bencana, menjadi siksa dunia, perusak moral dan adab sesungguhnya, karna cinta itu adalah cinta, ia yang tumbuh dari suatu yang memang sudah ada, yang telah Alloh getarkan dalam hati manusia, semua, tanpa dibatas-batasi dan tanpa kecuali.
Sepatutnya cinta menjadi pelembut jiwa, pelembut bagi hati-hati yang keras dan batu, penjinak bagi nafsu-nafsu yang tak dapat dilekang. Tidak patut pulalah seorang muda, yang masih mempunyai semangat membara, meneguhkan egonya demi yang dikatakan cinta, untuk menguasai satu dengan lainnya.
Karna hakikatnya cinta ialah memberi, ia memberikan rasa, ia memberika harapan, ia memberikan ketenangan, dan itu teramat sederhana.
Tak usahlah ia dibumbui dengan ketegangan, nafsu untuk menguasai, dan keinginan untuk terus diperhatikan, karna ia teramat sederhana, bagi yang menyederhanakan.
Tak pulalah ia ditakuti oleh perbedaan keturunan, ketimpangan harta benda, ataupun masalah fisik yang tak ada habisnya, tetapkanlah ia sewajarnya, asalah masih dalam irama yang sama, maka tetapkanlah ia, dan jangan diperlama.
Karna mencintai itu sederhana.
Sabtu, 15 Desember 2012
Kamis, 08 November 2012
Bakaco diri
Masih saja sibuk dalam rutinitas tanpa batas
Banyak hal-hal tertinggal perlahan,
Padahal itu merupakan kerikil-kerikil penguat bangunan,
ketika dia rapuh, maka lambat laun pasti akan juga merapuhkan seluruh bangunan
Seakan lupa pada gegap gempitanya masa
Masa yang akan meneggelamkan masa sebelumnya
Bagi dia yang tidak bersiap sedia,
Mensingsingkan lengan baju untuk selalu berbuat terbaik bagi dia dan sekitarnya
Ingat lah ia, kawan, tetangga sebelamu mungkin
Yang hari ini bekerja, untuk makan hari ini
Jika tidak bekerja, bisa jadi tidak mengepul asap dapur rumah tangga
Sementara aku, masih saja bisa menyerumput kopi malam-malam, bersenda gurau tanpa tujuan yang berarti
Karna masa itu datang cuma sekali
tak akan kembali, bisa jadi kembali dalam saluran dan gelombang yang jauh berbeda
Akan kurapikan kembali rasanya, kerikil yang terlanjur terserak
karna ia penguat bangunan ini, pengokoh dari segala guncangan-guncangan hakiki
Jika bukan mu, mungkin akan ada orang lain nanti
yang lebih baik, dan lebih gesit diujung dunia kini
yang akan mengganti peran-peran orang yang sudah tak kuat dan tak kuasa dalam kelalaiannya
dan tinggallah jari digigit sebagai penyesalan terakhirnya.
Rabu, 07 November 2012
Iman
Duhai Iman, masihkah engkau berada dalam sisi kehidupan, menjadi
perujuk dalam setiap tindakan, penguat dalam tingkahlaku keseharian
Duhai Iman, masihkah kau bertahan dalam singgasana kehidupan, ditengah gempuran perusak jiwa, perusak rasa, perusak kehidupan yg sebenarnya
Godaan kehidupan merupakan bumbu penyedap, yang menjadikan hidup lebih berwarna, dan menjadi lebih bernyawa,menjadi pematah atau penyemangat cuma tergantung kita, tergantung bagaimana kita menilainya, dan mensikapinya. Seakan tipis, tetapi beda pensikapan.
Tetaplah bertahan dalam singgasana hati yang luarbiasa, godaan kehidupan cuma menjadi sendagurau belaka, menjadi lebih yakin dan terungkap dalam laku dikehidupan yang sesungguhnya.
Duhai Iman, masihkah kau bertahan dalam singgasana kehidupan, ditengah gempuran perusak jiwa, perusak rasa, perusak kehidupan yg sebenarnya
Godaan kehidupan merupakan bumbu penyedap, yang menjadikan hidup lebih berwarna, dan menjadi lebih bernyawa,menjadi pematah atau penyemangat cuma tergantung kita, tergantung bagaimana kita menilainya, dan mensikapinya. Seakan tipis, tetapi beda pensikapan.
Tetaplah bertahan dalam singgasana hati yang luarbiasa, godaan kehidupan cuma menjadi sendagurau belaka, menjadi lebih yakin dan terungkap dalam laku dikehidupan yang sesungguhnya.
Minggu, 04 November 2012
wajah anak pinggiran
Anak itu masih dengan setianya duduk dipinggir jalan, sambil sesekali menghirup lem aibon yang ditutupi disela-sela kain, terlihat nanar disela-sela wajah mudanya, sambil sesekali mengulangi perbuatan yang sama, menghirupkan lem aibon ke hidungnya.
Anak itu masih terlihat lugu, lugu dalam arti yang sesungguhnya, belum layak rasanya dipekerjakan menjadi seorang peminta-pinta. Terlihat ayu wajah kecilnya, tapi juga terasa kontras dengan kusamnya penampilan yang dibawa. Setiap lampu merah menyala, dengan sigapnya ia akan mendekati pengendara, mengadahkan tangan tanda meminta, dengan wajah belas kasihan berharap pengendara mau merogoh koceknya untuk sekedar memberi, sekedarnya, sekedar buat makan keluarganya, yang sedang menunggu dipinggir trotoar sana.
Ini wajah kita kawan, wajah kebanyakan, wajah seakan-akan tanpa harapan, apakah harus diperangi dengan memasukannya kedalam tahanan, atau ada sedikt asa yang kita bawa buat mereka. Tidak memberi kepada anak kecil yang meminta-minta dipinggir jalan dengan alasan nanti akan terbiasa, itu juga bukan solusi, toh pemerintah abai terhadap mereka, toh pemerintah seakan tidak berdaya, karna terlalu sibuk mengurus perutnya.
Ini wajah kita, penerus generasi selanjutnya, penerus perjuangan bangsa, tapi tidak terurus oleh negaranya, sendiri. Akankah kita cukupkan kepada mereka, atau mungkin kita menjadi bagian dari sebuah solusi kedepannya.
Masih pagi di akhir pekan.
Kamis, 01 November 2012
negeri seperti hampir tanpa ketegasan
Mungkin kita sama-sama sepakat, bahwa negeri yang kita cintai ini seperti hampir porak poranda, semuanya serba bermasalah, dar imulai pemerintahannya yang selalu dekat dengan korupsi dan budaya koruptif, perwakilan rakyatnya yang ga jauh bedanya dengan pemerintah, sampai rakyatnya pun ikut bermasalah, seakan semuanya hampir mempunayi masalah moral yang sama, masalah kejiwaan, yang jauh dari nuansa yang dulu kita pernah pelajari ketika dulu sekolah.
Seakan kita sulit untuk merunut dimana akar permasalahan pada bangsa ini, bayangkan, hampir semua peristiwa yang kita saksikan ditelevisi, semuanya serba bernuansa kekerasan, kerakusan, keserakahan, penindasan, yang makin hari-makin tidak asing lagi kita dengan tema-tema tersebut.
Mereka yang mempunyai kuasa, maka akan memaksimalkan kekuasaannya untuk memperoleh keuntungan "dengan apapun carannya". Yang mempunyai sarana, akan memaksimalkan segala macam sarana yang dipunya untuk memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya. Bahkan anak-anak muda pun, terutama pelajar sekolahan, yang masih mempunytai semangat muda, mereka akan menunjukkan semangat "hargadiri" sekolahnya, dengan menghancurkan sekolah lainnya, yang bisa jadi tidak ada sama sekali berhubungan dengan sekolahannya. Seakan sakit jiwa semuannya.
Pemimpin sebagai pemegang komando, terlihat gagap luar biasa, tidak tampak lagi wibawa seorang pemimpin, ketegasan yang ditunggu, keberanian mengambil sikap, seakan lenyap ditelan peradaban. Ketika itu semua sudah tersaji dengan matangnnya, maka kepada siapa lagi rakyat kita menyandarkan tubuhnya, menggantungkan keluh kesahnya,ketika semua yang dilihat sama sekali tidakmemberikan jawaban memuaskan.
Sudah saatnya kita berbenah, karna bangsa ini masih harus terus berdiri, bangsa ini harus diselamatkan, dari tangan-tangan koruptif penguasa, palu-palu koruptiuf pembuat kebijakan, semangat-semangat pesimistis rakyat pinggir jalan.
Jikalau bukan pada kita, maka kepada siapalagi mereka bicara....
Sabtu, 20 Oktober 2012
Kamis, 18 Oktober 2012
tentang perjalanan
Bagaikan sebuah perjalanan, yang seringkali terasa panjang, seringkali terasa begitu sukar untuk dilalui, seringkali banyak kelok-kelok yang menggoda bagai fatamorgana.
Jalan ini tentu bukan untuk dilalui bagi kami yang takut, sama sekali tidak, apalagi bagi orang yang tidak bernyali, jangan sekali-kali. ini adalah jalan penuh uji, bagi orang-orang tak mengenal dengan kata takut, bagi nyali-nyali yang tak tertandingi.
Karna tujuan perjalanan ini jelas, jelas sejelas-jelasnya, hanya saja kami tak mengetahui, sampai kapan kami akan sampai, karna yang kami ketahui adalah, kuatkan tekad, gelorakan semangat, dan berhati-hati dalam perjalanan agar selamat sampai tujuan.
Bagi jiwa-jiwa yang masih mencari warna dan bentuk diri.
Langganan:
Postingan (Atom)
