Kamis, 18 Oktober 2012

tentang perjalanan





Bagaikan sebuah perjalanan, yang seringkali terasa panjang, seringkali terasa begitu sukar untuk dilalui, seringkali banyak kelok-kelok yang menggoda bagai fatamorgana. 

Jalan ini tentu bukan untuk dilalui bagi kami yang takut, sama sekali tidak, apalagi bagi orang yang tidak bernyali, jangan sekali-kali. ini adalah jalan penuh uji, bagi orang-orang tak mengenal dengan kata takut, bagi nyali-nyali yang tak tertandingi.

Karna tujuan perjalanan ini jelas, jelas sejelas-jelasnya, hanya saja kami tak mengetahui, sampai kapan kami akan sampai, karna yang kami ketahui adalah, kuatkan tekad, gelorakan semangat, dan berhati-hati dalam perjalanan agar selamat sampai tujuan.


Bagi jiwa-jiwa yang masih mencari warna dan bentuk diri.



Minggu, 14 Oktober 2012

tentang amanah

Terasa makin kacau negara tercinta kita, dari lalu lintasnya, sampai keresahan warganya yang ditunjukkan dengan seringnya terjadi tawuran antar warga, bahkan pelajarnya, menjadi hal yang biasa kita temui sehari-hari.

Saya ingin mengatakan, bahwa seringnya terjadi tawuran antar warga, bukan karna kita sudah meninggalkan karakter kita sebagai orang Indonesia, yang terkenal ramah tamah dan terbuka, akan tetapi keresahan yang timbul diwarga masyarakat belakangan ini adalah akibat beratnya beban hidup masyarakat dari waktu-kewaktu.

Tidak bisa kita pungkiri memang, bahwa kenaikan harga barang selalu terjadi tanpa diimbangi oleh kenaikan pendapatan yang cukup, harga naik berdasarkan deret ukur sementara kenaikan pendapatan naik berdasarkan ukuran deret hitung, ya jelas kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya tidak pernah mencukupi.

Keresahan akan masa depan yang ditunjukkan dari semakin labilnya emosi warga, sudah seharusnya menjadi perhatian penting bagi pemangku kuasa, baik itu pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. masyarakat sudah sangat gerah melihat tingkah laku para pejabat negara yang tidak amanah dalam menjalani kekuasaanya, masyarakat juga sudah jemu melihat perkelahian antara lembaga negara, masyarakat juga sudah bosan dengan pencitraan-pencitraan buta pejabat untuk menaikkan simpati massa kepadanya.

Karna bukan itu yang kami butuhkan, tetapi yang kami butuhkan adalah kepastian hidup secara layak dan manusiawi, bukan hidup yang sekedar hidup dan menjadi parasit, tanpa punya kejelasan langkah dan sikap dimasa depan.

Hentikanlah sikap tidak amanah dalam memikul tanggungjawab, hentikanlah pencitraan-pencitraan busuk, hentikanlah pertikaian antar lembaga, sekarang bekerjalan dengan maksimal wahai pejabat negara, karna kami butuh kepastian akan kehidupan kami, akan msa depan anak-anak kami. Agar kita kembali menjadi masyarakat yang tidak mudah meluapkan emosi, masyarakat yang bertanggung jawab, masyarakat yang manah, dan semua itu kami pelajari dari pemimpin kami, orang yang sudah kami pilih untuk menjalankan amanah ini, untuk kami dan kebaikan bangsa kami.

Sabtu, 13 Oktober 2012

Pagi dengan segala harapannya

Pagi dengan segala harapannya, bahwa waktu akan terus saja berputar, bahwa yang tak mempersiapkan akan dengan mudah digilas oleh keadaan, bahwa dipagi ini masih ada harapan baru yang terbuka luas, masih menyisakan misteri tentang masa depan, yang kita pun tak punya pijakan tentangnya.

Tidaklah pula perlu dirisaukan tentang waktu, apalagi menjadikanmu gundah gulana karnanya, jalani saja hari yang tampak bagimu, hari yang sedang engkau hadapi sekarang, dimukamu, hari yang terasa dekat engkau meraihnya, karna masa depan itu bukan hak kita yang menentukan, yang kita tentukan adalah, bagaimana hari ini dapat kita maksimalkan dan memberikan manfaat buat kita dan sekitar.

Karna, yang kita pahami, hidup adalah rentetan proses, yang mengalir dan bercerita, bahwa ketika kita berbuat maksimal pada hari ini, harapannya adalah, kita membuka kesempatan yang lebih baik untuk masa depan, harapan yang lebih jelas dan lebih terarah.

Tak perlu pulalah merisaukan apa yang orang lain katakan tentang kita, karna hidup ini adalah hidup kita,bukan hidup mereka, yang turut merisaukan, tetapi berterimakasihlah pada mereka, karna masih memperhatikan kita, masih perduli, dan masih mau menyisakan waktu untuk berfikir tentang kita, tapi risauan orang lain tentangmu janganlah menjadikanmu lambat langkah dan hilang darah, tapi tetaplah menjadi energi untukmu, untuk kebaikan mu, untuk semua harapan baikmu.

Teruslah berusaha maksimal, akan mimpimu, harapanmu, cita-citamu, akan rasa yang engkau perjuangkan, terusalh bergerak, karna yang membedakan yang mati dengan yang hidup adalah bergerak, karna disana masih ada harapan, masih terbuka luas memang, dan masih menunggu untuk kau ikat dan bawa pulang.

Sabtu pagi cerah ceria.

Jumat, 12 Oktober 2012

memaknai dinamika

Memaknai dinamika...


Ini tentang menghadapi dinamika hidup, tentang sulitnya menjaga konsistensi semangat dan arah yang sudah ditetapkan. Kadang kesulitan hidup begitu menjatuhkan, atau bahkan kesenangan seringkali membuaikan hingga dibuat lalai dengan hal-hal yang tidak pernah penting.

Gagal berencana, maka berencana untuk gagal. Seringkali kalimat itu terlintas dalam pikiran kita, karna hidup itu dasarnya adalah  rentetan rencana-rencana yang dibuat, kadang berhasil, kadang gagal. Adakalanya kita diketemukan dengan kejutan-kejutan, yang kadang kadang begitu menyenangkan, namun seringkali kejutan itu begitu dalam dan menyakitkan.

Bilamana kita menghadapi kejutan baik dan menyenangkan, sudahlah pasti kita mudah menerima dan menghadapinya, tapi, bila kejutan itu begitu dalam dan merupakan kejutan yang tidaklah menyenangkan, seringkali kita menjadi sulit dan terpuruk, bahkan menjadi susah untuk bangkit, atau minimal, bahasa anak muda sekarang, kita menajdi galau kasinau indrau.

Hal utama ketika kita menghadapi kesulitan dan kejutan buruk adalah bagaimana kita mengokohkan sandaran kita, mengokohkan tempat menggantung seluruh harapan kita, atau kerennya, seberapa dekat engkau dengan pencipta mu, Alloh SWT. Ketika hubungan kita kuat dengan Tuhan kita, maka seberat apapun kesulitan itu, kita akan tetap stabil dan tidak terpuruk, karna adanya keyakinan kuat dalam diri kita, bahwa segala sesuatunya merupakan hal yang terbaik buat kita sebagai hambaNya menurut carapandang Nya, bukan cara pandang kita.

Hal kedua, yang juga penting jika kita menghadapi kesulitan adalah, banyakin teman yang baik-baik akhlaknya, karna ia akan menjadi sparing partner terbaik dalam menuntaskan masalah dan memberikan masukan jitu buat kita.

Karna hidup ini buka untuk dipusingin, tapi untuk dijalanin, mau susah mau asik, mau enak mau ga enak, nikmatin aja setiap warnanya, setiap dinamikanya, karna memang ini hidup kita bukan hidup mereka, sambil nyanyi-nyanyi kecil

Biarkan ku mengikuti suara dalam hati

Yang slalu membunyikan cintaaaa

Kupercaya dan kuyakini bisikan nurani

Menjadi penunjuk jalanku lentera jiwaku...



Atau mungkin pernah denger lagu planet bumi:



Ku langkahkan kakiku melewati waktu

Bersama bunga indah ditaman itu

Yang slalu menemani mimpi-mimpi ini

Didalam hati dan dalam jiwaku



Jalani, nikmati... Manstaaabbbb



#
dalamperenungansukadukapekerjaan

Sabtu, 22 September 2012

Pilihan bersikap

Jakarta dipastikan akan mempunyai pimpinan baru, pemimpin yang dipilih berdasarkan suara terbanyak warga ibu kota, yang suka atau tidak suka, ya kita harus menerima bahwa inilah pemimpin kita yang baru untuk 5 tahun kedepan.

Memang sempat menjadi dinamika sendiri, ketika kita dihadapkan pada sebuah pilihan dan sangat dinantikan keputusan kita akan sebuah pilihan tersebut, karna dengan pilihan kita itu secara tidak langsung akan berdampak bukan buat kita, tapi juga buat orang sektar kita.

Tentu sebelum memilih, kita juga sudah dijejali denag berbagai macam refernsi logis maupun tak logis, kenapa kita harus memilih A atauk kenapa kita harus memilih B, pada dasarnya preferensi itu dikembangkan oleh orang lain yang juga punya keinginan sama, agar pilihannya tersebut juga dipilih oleh kita, agar kebaikan orang tersebut dapat kita tangkap dan kita maknai sama seperti ia memaknai pilihannya.

Setelah kita banyak mereangkum referensi, atas histori cerita, berita yang berkembang, dan hal-hal lain yang kita perhatikan, maka disitulah kesempatan kita memutuskan. dan kesempatan kita pun sudah kita lakukan kemarin, yang menurut saya bentuk memutuskan adalah suatu sikap yangbertanggung jawab atas nasib kota ini kedepan, kenapa menjadi bentuk tanggung jawab, karna disitulah kita akan merasa, seburuk atau sebaik apapun kota kita kedepan, itu bukan karna siapa-siapa, itu merupakan karna kita, karna kita telah memilih atau kita tidak memilihnya, untuk menjadi pemimpin di ibukota tercinta.

Sabtu Pagi cerah berseri
7.38


Jumat, 21 September 2012

Masih saja

Masih saja, bisa kuperhatikan secara terbuka, anak-anak kecil, masih terlau belia, seakan dosapun masih enggan menyapa, terdampar diperempatan jalan itu. Jalan yang begitu gagah, dihuni berbagai gedung tinggi menjulang, denagn lalu lalang manusia-manusia modern yang necis dan wangi. Tapi masih saja pemandangan itu masih tampak dan lekat kulihat dalam setiap harinya.

Masih saja, dengan mudah kuperhatikan apa yang mereka lakukan, dalam setiap lampu merah yang menyala, maka mereka akan mendekatkan dirinya, dang meminta-minta para pengendara yang melintas disekitarnya. Masih saja dapat kulihat, begitu angkuhnya ibukota menolak mereka, menolak dalam artian yang sebenarnya, menolak seorang anak meminta-minta, disaat ibu mereka bercanda dipinggir jalan itu, berteduh dengan riangnya menunggui anak mereka bekerja, memarahinya bila tidak bisa menunjukkan belas iba kepada para pengendara.

Masih saja, ,ku merasa iba kepada masa depan mereka, merasa marah yang luar biasa kepada para ibu-0ibu yang telah dengan tega membiarkan anak mereka meminta-minta, yang telah membunuh masa depan anaknya, seakan tanpa harapan dan kepastian dimasa dewasanya.

Masih saja, kuberpikir akan kemana bangsa inii akan berarah, ketika anak-anak kecil yang akan menggantikan kita, besar dengan cara seperti ini,ketika ketimpangan semakin tampaknyata dipermukaan. Apakah bangsa ini, telah kehilangan visi kebangsaan, untuk memajukan bangsanya sendiri, bukankah mereka telah diamanatkan undang-undang bahwa mereka akan dipelihara oleh negara. Lalu kemanakah peran negara atas ini semua, apakah para pejabat-pejabatnya masih hanya memikirkan urusan perut mereka, urusan harta untuk generasi ketujuh pun masih belum akan habis.

Dimanakah kau, wahai pemegang tampuk kekuasaan, apakah masih saja menutup mata pada mereka. Jikalupun ia, alangkah baiknya, ketiak pemegang amanah sudah tidak lagi amanah, maka kepada kitalah kewajiban itu dialihkan, kepada kitalah mungkin mereka berharap, sedikit akan masa depan baik mereka.

Semoga dengan itu, akan memperberat amalan-amalan baik kita, untuk dibawa di akhiratNya kelak, sebagai penambah pahala ketika kita dihadapanNya.

Kamis, 16 Desember 2010

Menggapai masa

Kerja keras nyata-nyata ga berbanding lurus dengan besarnya penghasilan yang didapat. Bisa kita lihat, bagaimana kerasnya pekerjaan seorang tukang panggul, dengan peluhnya yang hampir setiap hari bertengger di tubuhnya, panasnya mahatari yang selalu membakar kulitnya, masih saja menghadapi persoalan ekonomi yang sama, masih bertengger dalamurutan teratas data statistik tingkat kemiskinan masyarakat.

Sementara banyak juga orang, yang bila dilihat sekilas, rasa-rasa kurang keras kerjanya, bahkan mungkin hampir tidak tampak peluh keringat bertengger diwajahnya, tapi menampakkan tingkkat kemapanan hidup yang baik.

Maka dapat disumpulkan bahwa kerja keras berbanding terbalik dengan besarnya penghasilan seseorang. Lalu timbullah satu pertannyaan dalam benak kita, jika kerja keras saja tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup seseorang, maka hal apa yang dapat merubah seseorang untuk dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya.

Bisa jadi setelah kita bekerja keras, maka bekerja dengan cerdaslah jawaban selanjutnya. Banyak contoh yang dapat dikemukakan untuk menggambarkan bahwa kerja cerdas dapat memberikan pengaruh positif dalam meningkatkan tingkat kemakmuran hidup seseorang. Misal: Pemenang lomba wirausaha muda mandiri kemarin, berjualan pisang ijo khas Makasar. Berapa banyak orang berjaualan pisang ijo namun masih hidup dalam kondisi yang sama dari waktu kewaktu, tidak banyak berubah dan berdampak dalam kehidupannya. Mamun banyangkan, seorang wanita yang masih begitu muda, membuat makanan khas yang bukan merupakan makanan khas dari daerah tinggalnya, kemudian dia meraciknya sedemikian rupa, dia berikan pada makanan tersebut warna, nama dan variasi lainnya, juga disederhanakan harga jualnya, maka apa yang terjadi, dalam waktu yang tidak terlalu lama dia sudah mengalami peningkatan kemakmuran hidup yang tinggi.

Hal ini merupakan suatu keistimewaan tersendiri, bila kita sudah bekerja keras, kemudian kita rancang sedemikian rupa denagn cardas, maka hasil yang ingin kita capai tidak berapa lama akan kita dapatkan.

Tetapi barang tentu, satu hal yang utama. Setelah lelah kita bekerja, dengan sedemikian cerdasnya kita berusaha, maka penentu rizki yang utama tetaplah kita sandarkan kepada Alloh SWT, Tuhan penguasa alam semesta. Kita harus Ikhlaskan semua yang telah kita lakukan, kita sandarkan seluruhnya, dan kita harapkan sepenuhnya, hanya RidhoNyalah yang menjadi tujuan utama kita.