Jumat, 12 Oktober 2012

memaknai dinamika

Memaknai dinamika...


Ini tentang menghadapi dinamika hidup, tentang sulitnya menjaga konsistensi semangat dan arah yang sudah ditetapkan. Kadang kesulitan hidup begitu menjatuhkan, atau bahkan kesenangan seringkali membuaikan hingga dibuat lalai dengan hal-hal yang tidak pernah penting.

Gagal berencana, maka berencana untuk gagal. Seringkali kalimat itu terlintas dalam pikiran kita, karna hidup itu dasarnya adalah  rentetan rencana-rencana yang dibuat, kadang berhasil, kadang gagal. Adakalanya kita diketemukan dengan kejutan-kejutan, yang kadang kadang begitu menyenangkan, namun seringkali kejutan itu begitu dalam dan menyakitkan.

Bilamana kita menghadapi kejutan baik dan menyenangkan, sudahlah pasti kita mudah menerima dan menghadapinya, tapi, bila kejutan itu begitu dalam dan merupakan kejutan yang tidaklah menyenangkan, seringkali kita menjadi sulit dan terpuruk, bahkan menjadi susah untuk bangkit, atau minimal, bahasa anak muda sekarang, kita menajdi galau kasinau indrau.

Hal utama ketika kita menghadapi kesulitan dan kejutan buruk adalah bagaimana kita mengokohkan sandaran kita, mengokohkan tempat menggantung seluruh harapan kita, atau kerennya, seberapa dekat engkau dengan pencipta mu, Alloh SWT. Ketika hubungan kita kuat dengan Tuhan kita, maka seberat apapun kesulitan itu, kita akan tetap stabil dan tidak terpuruk, karna adanya keyakinan kuat dalam diri kita, bahwa segala sesuatunya merupakan hal yang terbaik buat kita sebagai hambaNya menurut carapandang Nya, bukan cara pandang kita.

Hal kedua, yang juga penting jika kita menghadapi kesulitan adalah, banyakin teman yang baik-baik akhlaknya, karna ia akan menjadi sparing partner terbaik dalam menuntaskan masalah dan memberikan masukan jitu buat kita.

Karna hidup ini buka untuk dipusingin, tapi untuk dijalanin, mau susah mau asik, mau enak mau ga enak, nikmatin aja setiap warnanya, setiap dinamikanya, karna memang ini hidup kita bukan hidup mereka, sambil nyanyi-nyanyi kecil

Biarkan ku mengikuti suara dalam hati

Yang slalu membunyikan cintaaaa

Kupercaya dan kuyakini bisikan nurani

Menjadi penunjuk jalanku lentera jiwaku...



Atau mungkin pernah denger lagu planet bumi:



Ku langkahkan kakiku melewati waktu

Bersama bunga indah ditaman itu

Yang slalu menemani mimpi-mimpi ini

Didalam hati dan dalam jiwaku



Jalani, nikmati... Manstaaabbbb



#
dalamperenungansukadukapekerjaan

Sabtu, 22 September 2012

Pilihan bersikap

Jakarta dipastikan akan mempunyai pimpinan baru, pemimpin yang dipilih berdasarkan suara terbanyak warga ibu kota, yang suka atau tidak suka, ya kita harus menerima bahwa inilah pemimpin kita yang baru untuk 5 tahun kedepan.

Memang sempat menjadi dinamika sendiri, ketika kita dihadapkan pada sebuah pilihan dan sangat dinantikan keputusan kita akan sebuah pilihan tersebut, karna dengan pilihan kita itu secara tidak langsung akan berdampak bukan buat kita, tapi juga buat orang sektar kita.

Tentu sebelum memilih, kita juga sudah dijejali denag berbagai macam refernsi logis maupun tak logis, kenapa kita harus memilih A atauk kenapa kita harus memilih B, pada dasarnya preferensi itu dikembangkan oleh orang lain yang juga punya keinginan sama, agar pilihannya tersebut juga dipilih oleh kita, agar kebaikan orang tersebut dapat kita tangkap dan kita maknai sama seperti ia memaknai pilihannya.

Setelah kita banyak mereangkum referensi, atas histori cerita, berita yang berkembang, dan hal-hal lain yang kita perhatikan, maka disitulah kesempatan kita memutuskan. dan kesempatan kita pun sudah kita lakukan kemarin, yang menurut saya bentuk memutuskan adalah suatu sikap yangbertanggung jawab atas nasib kota ini kedepan, kenapa menjadi bentuk tanggung jawab, karna disitulah kita akan merasa, seburuk atau sebaik apapun kota kita kedepan, itu bukan karna siapa-siapa, itu merupakan karna kita, karna kita telah memilih atau kita tidak memilihnya, untuk menjadi pemimpin di ibukota tercinta.

Sabtu Pagi cerah berseri
7.38


Jumat, 21 September 2012

Masih saja

Masih saja, bisa kuperhatikan secara terbuka, anak-anak kecil, masih terlau belia, seakan dosapun masih enggan menyapa, terdampar diperempatan jalan itu. Jalan yang begitu gagah, dihuni berbagai gedung tinggi menjulang, denagn lalu lalang manusia-manusia modern yang necis dan wangi. Tapi masih saja pemandangan itu masih tampak dan lekat kulihat dalam setiap harinya.

Masih saja, dengan mudah kuperhatikan apa yang mereka lakukan, dalam setiap lampu merah yang menyala, maka mereka akan mendekatkan dirinya, dang meminta-minta para pengendara yang melintas disekitarnya. Masih saja dapat kulihat, begitu angkuhnya ibukota menolak mereka, menolak dalam artian yang sebenarnya, menolak seorang anak meminta-minta, disaat ibu mereka bercanda dipinggir jalan itu, berteduh dengan riangnya menunggui anak mereka bekerja, memarahinya bila tidak bisa menunjukkan belas iba kepada para pengendara.

Masih saja, ,ku merasa iba kepada masa depan mereka, merasa marah yang luar biasa kepada para ibu-0ibu yang telah dengan tega membiarkan anak mereka meminta-minta, yang telah membunuh masa depan anaknya, seakan tanpa harapan dan kepastian dimasa dewasanya.

Masih saja, kuberpikir akan kemana bangsa inii akan berarah, ketika anak-anak kecil yang akan menggantikan kita, besar dengan cara seperti ini,ketika ketimpangan semakin tampaknyata dipermukaan. Apakah bangsa ini, telah kehilangan visi kebangsaan, untuk memajukan bangsanya sendiri, bukankah mereka telah diamanatkan undang-undang bahwa mereka akan dipelihara oleh negara. Lalu kemanakah peran negara atas ini semua, apakah para pejabat-pejabatnya masih hanya memikirkan urusan perut mereka, urusan harta untuk generasi ketujuh pun masih belum akan habis.

Dimanakah kau, wahai pemegang tampuk kekuasaan, apakah masih saja menutup mata pada mereka. Jikalupun ia, alangkah baiknya, ketiak pemegang amanah sudah tidak lagi amanah, maka kepada kitalah kewajiban itu dialihkan, kepada kitalah mungkin mereka berharap, sedikit akan masa depan baik mereka.

Semoga dengan itu, akan memperberat amalan-amalan baik kita, untuk dibawa di akhiratNya kelak, sebagai penambah pahala ketika kita dihadapanNya.

Kamis, 16 Desember 2010

Menggapai masa

Kerja keras nyata-nyata ga berbanding lurus dengan besarnya penghasilan yang didapat. Bisa kita lihat, bagaimana kerasnya pekerjaan seorang tukang panggul, dengan peluhnya yang hampir setiap hari bertengger di tubuhnya, panasnya mahatari yang selalu membakar kulitnya, masih saja menghadapi persoalan ekonomi yang sama, masih bertengger dalamurutan teratas data statistik tingkat kemiskinan masyarakat.

Sementara banyak juga orang, yang bila dilihat sekilas, rasa-rasa kurang keras kerjanya, bahkan mungkin hampir tidak tampak peluh keringat bertengger diwajahnya, tapi menampakkan tingkkat kemapanan hidup yang baik.

Maka dapat disumpulkan bahwa kerja keras berbanding terbalik dengan besarnya penghasilan seseorang. Lalu timbullah satu pertannyaan dalam benak kita, jika kerja keras saja tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup seseorang, maka hal apa yang dapat merubah seseorang untuk dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya.

Bisa jadi setelah kita bekerja keras, maka bekerja dengan cerdaslah jawaban selanjutnya. Banyak contoh yang dapat dikemukakan untuk menggambarkan bahwa kerja cerdas dapat memberikan pengaruh positif dalam meningkatkan tingkat kemakmuran hidup seseorang. Misal: Pemenang lomba wirausaha muda mandiri kemarin, berjualan pisang ijo khas Makasar. Berapa banyak orang berjaualan pisang ijo namun masih hidup dalam kondisi yang sama dari waktu kewaktu, tidak banyak berubah dan berdampak dalam kehidupannya. Mamun banyangkan, seorang wanita yang masih begitu muda, membuat makanan khas yang bukan merupakan makanan khas dari daerah tinggalnya, kemudian dia meraciknya sedemikian rupa, dia berikan pada makanan tersebut warna, nama dan variasi lainnya, juga disederhanakan harga jualnya, maka apa yang terjadi, dalam waktu yang tidak terlalu lama dia sudah mengalami peningkatan kemakmuran hidup yang tinggi.

Hal ini merupakan suatu keistimewaan tersendiri, bila kita sudah bekerja keras, kemudian kita rancang sedemikian rupa denagn cardas, maka hasil yang ingin kita capai tidak berapa lama akan kita dapatkan.

Tetapi barang tentu, satu hal yang utama. Setelah lelah kita bekerja, dengan sedemikian cerdasnya kita berusaha, maka penentu rizki yang utama tetaplah kita sandarkan kepada Alloh SWT, Tuhan penguasa alam semesta. Kita harus Ikhlaskan semua yang telah kita lakukan, kita sandarkan seluruhnya, dan kita harapkan sepenuhnya, hanya RidhoNyalah yang menjadi tujuan utama kita.

Rabu, 07 Juli 2010

sepertibiasa: Mimpi itu

sepertibiasa: Mimpi itu

Mimpi itu

Amboi terasa tinggi nian mimpi ini muncul,
muncul bukan karena sesuatu yang tiba-tiba didalam otak,
bukan, bukan juga seperti tukang sulap yang dengan simsalabimnya bisa memunculkan banyak hal dalam sekejap,
juga bukan tiba-tiba jatuh dari langit seperti air hujan kemudian terekam dengan baik sehingga menjadi mimpi.

Ini timbul akibat ulah proses,
proses yang berlangsung lebih dari seperempat abad,
proses yang lahir dari didikan alam yang datang silih berganti,
proses yang konsisten berputar bagai sebuah roda,
kadang diatas kadang dibawah.

Proses ini adalah proses hidup,
hidup menjadi seorang manusia,
manusia yang utuh, manusia yang mempunyai cita-cita,
Yang tidak mau dinina bobokna ala kadarnya

Proses inilah yang akan menghadirkan gelora
Yang akan menguncang sendi-sendi kaku jiwa
Yang akan menghapuskan kemalasan durjana
Dan menghadirkan kemenagan yang nyata

Dalam sisa waktu ini
Masih banyak waktu untuk berkarya
Tidak baik rasa, jika hanya disia-sia belaka
Kan kujadi maha karya Syurga

Insya Alloh...

Masih saja berjalan

Semuanya berjalan,
Terus saja berjalan,
Semua mengalir
Terus saja mengalir

Banyak rasa yang dulu pernah ada
Masih terekam bersih dalam jiwa
Banyak rasa yang dulu pernah ada
Menjadi bumbu penyedap dalam suka dan lara

Tapi aku merasa masih tetap sama
Sama seperti dulu
Tapi aku merasa dunia makin terus berwarna
Menjadi penyejuk jiwa-jiwa ku

Banyak yang berubah
Suasana, rasa ,semangat, komitmen, dan segala hal lainya
Banyak yang berubah
Tapi sulit untuk kembali menjangkaunya

Tapi aku masih punya semangat sama
Semangat yang menjadi tenaga bagi jiwa-jiwa terluka
Tapi aku masih punya mimpi membahana
Mimpi yang akan merongrong langit-langit dunia

Doa ku untuk terus bersama
Kutitip pelan-pelan agar terus terjaga
Menjadi tambahan alakadarnya
Ketika semangat ini terhenti jadinya